-- advertise --

Sambut Nyepi, Warga Bali di Argamakmur Gelar Pawai Ogoh-ogoh

0

-- advertise --

RAGAMPOST.COM, Argamakmur – Umat Hindu di Bengkulu Utara (BU), Bengkulu akan meramaikan festival Ogoh-ogoh dalam rangka menyambut Hari Raya Nyepi Umat Hindu, Senin (4/3/2019) mendatang. Pawai ondel-ondel ala Bali ini digelar sebagai rangkaian penyambutan hari raya Nyepi Tahun Baru Caka 1941 yang jatuh tanggal 7 Maret 2019.

“Festival Ogoh-Ogoh ini diikuti lima Banjar (satuan wilayah) Desa Adat sebagai peserta dan yang mendaftarkan tujuh grup ogoh-ogoh,” ujar Ketua Panitia Festival Ogoh-Ogoh, Nyoman Deres, kepada wartawan usai rapat koordinasi (Rakor) di ruang Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Setdakab BU, Selasa (26/2/2019).

Sama seperti tahun sebelumnya, pawai Ogoh-ogoh kali ini di Pura Darma Yatra Desa Rama Agung, Argamakmur, tanggal 4 Maret 2019. Menurut Plt Kadis Kominfo BU, Dodi Hardinata, setelah mengawali pawai dari Pura Dharma Yatra, Ogoh-ogoh akan finis di Alun-alun Rajo Malin Paduko (RMP).

“Berawal dari tahun sebelumnya, direncanakan festival Ogoh-ogoh menjadi agenda rutin tahunan dalam menyambut hari raya Nyepi di daerah ini. Festival Ogoh–ogoh perencanaanya akan lebih meriah dari tahun sebelumnya,” paparnya.

Staf Ahli Bidang Ekonomi, Kiman Nazardi menambahkan, pawai festival Ogoh–ogoh menjadi daya tarik baru wisatawan daerah. Ia pun berharap, festival keagamaan ini dapat berkembang menjadi ikon daerah. “Kita harapkan kedepan Ogoh-ogoh ini dapat menjadi ikon daerah untuk dapat mendorong sektor pariwisata,” timpalnya.

Selain festival Ogoh-ogoh, akan digelar juga pentas seni sekaligus pemenang lomba pada festival ogoh-ogoh. Ada pun peserta parade Ogoh-ogoh diikuti lima kelompok adat.

Antara lain, Banjar adat Darmeh Santi Desa Rama Agung di Ketuai oleh Gede rumaniah, Banjar adat Tirte Tegteg Desa Sumber Agung diketuai Nyoman Suirta, Banjar adat Darmayiga Desa Kuro Tidur diketuai oleh Gusti Komang Widana, Banjar adat Dewa Ayu Desa Sumber Agung diketuai oleh Gede Sake dan Banjar adat Puncak Harapan Desa Tanjung Raman, diketuai oleh Nyoman Kariasa.

Untuk diketahui, Ogoh-ogoh ditujukan untuk menyucikan lingkungan dari roh jahat untuk menghadapi hari raya suci Nyepi.

Ogoh-ogoh sendiri dalam bahasa Bali disebut Ogah–ogah, diartikan sebagai sesuatu yang digoyang-goyangkan. Secara fisik, bentuknya menyerupai boneka raksasa. Wujudnya, Bhuta Kala, merepresentasikan kekuatan (Bhu) alam semesta dan waktu (Kala) yang tak terukur dan tak terbantahkan.

Dalam ajaran Hindu Dharma, Bhuta Kala digambarkan sebagai sosok yang besar dan menakutkan. Biasanya dalam wujud raksasa. Selain wujud raksasa, Ogoh-ogoh sering pula digambarkan dalam wujud makhluk-makhluk yang hidup di Mayapada, Syurga dan Naraka. Seperti, naga, gajah dan Widyadari.

Bahkan dalam perkembangannya, ada yang dibuat menyerupai orang-orang terkenal. Mulai dari pemimpin dunia, artis, tokoh agama bahkan penjahat.

Saat perayaan pawai, Ogoh-ogoh akan diarak keliling desa menjelang malam sebelum hari raya Nyepi (Ngerupukan). Saat pawai, akan diiringi gamelan Bali yang disebut Bleganjur, sebelum akhirnya dibakar.

Sejak tahun 1983, Presiden RI, Soeharto menetapkan Nyepi sebagai libur nasional. Semenjak itu masyarakat bali mulai membuat perwujudan onggokan yang kemudian disebut Ogoh-ogoh. Bahkan, sejak diikutkan dalam Pesta Kesenian Bali ke XII, Ogoh-ogoh pun kian populer dan menjadi salah satu tradisi setempat. [tsr]

Reporter : Sone (Kontributor Bengkulu Utara)
Editor : Tangguh Sipria Riang



Reporter  :   
Editor       :
Berita Terbaru lainnya