-- advertise --

Sambut Nyepi, Ogoh-ogoh di Argamakmur Selfie

0

-- advertise --


RAGAMPOST.COM, Argamakmur – Manusia menggunakan kamera hape dan tongkat narsis (tongsis) itu biasa. Lalu, bagaimana kalau tongsis dan kamera itu dipegang Ogoh-ogoh atau ondel-ondel khas Bali?

Seperti yang diperagakan Kala Bangkung, Ogoh-ogoh dari Banjar Adat Yoga, Desa Kuro Tidur, Argamakmur, Bengkulu Utara (BU). Momen tersebut terjadi saat pawai Ogoh-ogoh menyambut Hari Raya Nyepi Umat Hindu, Senin (4/3/2019) pagi.

Secara visual, Ogoh-ogoh nomor urut tiga itu merepresentasikan sosok Kala (roh jahat) dan Bangkung (babi). Sang Kala bergigi panjang terlihat memegang tongsis berkamera, seolah sedang berswafoto (selfie).

Kala tampak duduk di atas Bangkung sebagai tunggangannya. Terdapat tulisan “Kala bangkung, Seluluk Selfi Jaman Now” di bagian depan Ogoh-ogoh. Panitia Festival Ogoh-Ogoh, Nyoman Deres, mengatakan tidak ada makna khusus dari penggunaan kamera selfie pada Ogoh-ogoh itu.

“Ngga ada (makna khusus). Itu hanya hiasan aja. Kala, berarti roh jahat. Sedangkan Bangkung itu babi betina. Jadi, roh jahat yang menyerupai Bangkung,” terangnya kepada RagamPost, Senin malam.

Pawai Ogoh-ogoh di Argamakmur, Bengkulu Utara, dalam rangka menyambut Tahun Baru Caka 1941. (Ist)

Fetival Ogoh-ogoh kali ini, bertempat di depan Pura Dharma Yatra Desa Rama Agung, Argamakmur. Rangkaian acara meliputi Melarapan Catur Brate Penyepian sekaligus pelepasan Karnaval atau Pawai Ogoh-ogoh.

Perayaan Nyepi Tahun Baru Caka 1941 sendiri jatuh tanggal 7 Maret 2019. Umat Hindu setempat mengusung tema “Melalui Catur Brata Penyepian Hari Raya Nyepi Tahun Saka 1941 Kamis 07 Maret 2019 Kita Sukseskan Pemilu 2019” pada perayaan kali ini.

Meski mengusung tema berbau pemilu, pawai Ogoh-ogoh tersebut terpantau steril dari atribut partai politik. Hal ini dibenarkan oleh salah satu warga setempat, Novicher.

“Sejauh penglihatan saya, tidak terlihat ada bendera atau atribut partai yang muncul selama pawai,” ungkap ayah tiga anak tersebut.

Pria yang berprofesi sebagai ASN itu mengaku senang bisa ikut berpartisipasi dalam rangkaian acara. Padahal dirinya bukan seorang penganut Hindu yang merayakan Nyepi.

“Ini kan bagian dari budaya Indonesia. Perlu kita lestarikan. Ikut berpartisipasi meskipun bukan beragama Hindu membuktikan kalau Bhinneka Tunggal Ika itu nyata adanya,” tuturnya.

Petugas kepolisian berpose di tengah Ogoh-ogoh. (Ist)

Peserta Pawai Ogoh-ogoh menyambut Hari Raya Nyepi se-Kabupaten Bengkulu Utara itu diikuti 250 peserta. Totalnya, ada delapan Ogoh-ogoh dari lima Banjar (wilayah) Desa di Argamakmur yang disertakan dalam pawai.

Rinciannya, dua Ogoh-ogoh Banjar Adat Tirta Teteg dari Desa Sumber Agung dan tiga Ogoh-ogoh Banjar Adat Dharma Santi dari Desa Rama Agung. Sedangkan tiga Ogoh-ogoh lainnya persembahan masing-masing tiga Banjar berbeda. Yaitu, Banjar Adat Dewa Ayu dari Desa Sumber Agung, Banjar Adat Puncak Harapan dari Desa Tanjung Raman dan Banjar Adat Yoga dari Desa Kuro Tidur.

Ogoh-ogoh yang ditampailkan saat pawai itu juga akan dinilai sebagai syarat perlombaan. Ada pun rute pawai tadi pagi berawal dari depan Pura Dharma Yatra. Kemudian melwati Rama Agung, Simpang empat Kantor Pos, Polres BU, Bundaran Arma, Alun-alun Rajo Malim Paduko, Simpang empat Tugu Amanah dan finish di Alun-alun Rajo Malim Paduko.

Hadir dalam rangkaian pawai tersebut, sejumlah pejabat daerah, politisi, tokoh adat, pemuka agama hingga perwakilan ormas setempat. [tsr]



Reporter  :   
Editor       :
Berita Terbaru lainnya