-- advertise --

Lion Air Delay 2 Jam, Penumpang WNA Rebahan di Karpet Bandara

0

-- advertise --

RAGAMPOST.COM, Jakarta – Kebiasaan delay maskapai Lion Air tak kunjung membaik. Penumpang jurusan Denpasar (DPS) – Surabaya (SUB) mengunggah imbas buruk layanan Lion Air di bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Bali Kamis (10/1/2019) siang.

“Hari ini (10/01) pesawat Lion JT-923 DPS to SUB delay lebih dari 120 menit,” ujar penumpang bernama Christian Kho melalui akun media sosial Facebook miliknya.

Christian juga mengeluhkan kompensasi yang tidak sesuai dari pihak Lion Air kepada penumpang. Menurutnya, dirinya dan penumpang lain berhak mendapat makanan berat sebagai kompensasi. Sesuai peraturan pemerintah tentang kompensasi keterlambatan penerbangan.

“Tapi, kami (penumpang) hanya diberi dua buah snack yang dibungkus jadi satu dan satu gelas air mineral,” sesalnya.

Selain itu, Christian juga menyertakan sebuah gambar dalam unggahannya. Pada gambar tersebut, tampak dua penumpang Warga Negara Asing (WNA) berbaring di karpet ruang tunggu. Keduanya terlihat cuek rebahan berdampingan meski ada aktivitas orang lain di ruang tunggu tersebut.

“Mungkin kedua bule (WNA) ini bosan menunggu delay sampai leyeh-leyeh baring di lantai sambil nonton TV. Kalau di rumahku, nonton TV sambil baringan di lantai tanpa karpet. Di sini (bandara) bisa nonton TV sambil baring di atas karpet dan full ac. Mantap,” tulisnya.

Aktivitas penumpang jelang keberangkatan di salah satu area bandara. (RAGAMPOST.com/Tangguh Sipria Riang)

Beberapa warganet, ikut geram membaca unggahan Christian terkait bobroknya layanan Lion Air. Salah satunya, Ardi Winangun memberikan komentarnya. “Waduh, sering delay,” tuturnya.

Warganet lainnya, Vivi Lauw menambahkan komentar terkait kompensasi yang diberikan Lion Air. Menurutnya, kompensasi yang tidak sesuai itu merupakan hal lazim dari layanan Lion Air.

“Udah biasa itu. Suami saya sering banget naik Lion, delay di kasih biskuat sama mineral gelas. Biar kuat kali ya? Dikasih biskuat buat menghadapi kenyataan,” ungkap Vivi.

Begitu juga dengan komentar Febriany Oceanita Sapulete. Warganet ini ikut menanggapi terkait kenaikan harga tiket Lion Air yang mulai berlaku beberapa hari mendatang. Meski sudah menaikkan harga tiket, Febri menilai, delay penerbangan di maskapai Lion Air tetap menjadi kebiasaan (habit).

“Tetap ya habit delay nya? Padahal harga tiket udah naik, ditambah tidak ada bagasi gratis lagi,” timpalnya.

Sebelumnya, Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi mempersilakan maskapai Lion Air Grup untuk mengenakan biaya bagasi kepada penumpangnya. Khususnya pesawat Lion Air dan Wings.

Namun, pihak Lion Air diminta menerapkan sosialisasi per tanggal 8 Januari 2019. Setelah sosialisasi dua minggu, perubahan kebijakan bagasi resmi diberlakukan tanggal 22 Januari 2019.

Ketentuan mengenai bagasi diatur dalam Pasal 22 Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 185 Tahun 2015. (Net)

“Dari grace period, nggak bayar. Saya minta selama dua minggu ini masa sosialisasi nggak bayar,” kata Budi Karya di Komplek Istana, Jakarta Pusat, Selasa (8/1/2019).

Budi optimis, kebijakan yang diterapkan oleh Lion Air dan Wings Air itu dapat berdampak positif terhadap on time performance (OTP) maskapai. Namun, kenyataannya, justru delay penerbangan masih saja terjadi.

Untuk diketahui, ketentuan mengenai bagasi diatur dalam Pasal 22 Peraturan Menteri Perhubungan (Permenhub) Nomor PM 185 Tahun 2015. Dalam pasal tersebut diatur tentang standar pelayanan penumpang kelas ekonomi angkutan udara niaga berjadwal dalam negeri.

Setiap maskapai juga diatur agar menentukan standar pelayanan. Dengan catatan memperhatikan kelompok pelayanan yang diterapkan masing-masing maskapai. Termasuk kebijakan bagasi tercatat disesuaikan dengan kelompok pelayanannya.

Adapun, maskapai yang bisa menerapkan kebijakan tersebut termasuk dalam kelompok pelayanan standar minimum (no frill) alias kelompok pelayanan berbasis biaya rendah (LCC). (tsr)



Reporter  :   
Editor       :
Berita Terbaru lainnya